Multimedia Dalam Dunia Pendidikan
Multimedia Dalam Dunia Pendidikan
1. PENDAHULUAN
Revolusi
elektronik tidak dapat dipungkiri, menjadi salah satu penyebab
berubahnya gaya dan pola hidup manusia dewasa ini. Komputerisasi, yang
merupakan perwujudan visual dari operasional dunia digital mengalami
perkembangan begitu pesat. Hitungannya tidak lagi dalam bilangan tahun,
bulan atau hari, melainkan ‘detik !!!’. Ditemukannya rahasia operasional
bilangan binner sehingga dapat menciptakan mesin hitung (kalkulator)
dianggap sebagai cikal berkembangnya komputerisasi hingga saat ini..
Banyak
sisi kehidupan manusia modern yang ‘dirampas’, baik dalam keadaan
sukarela menyerahkannya, maupun secara terpaksa. Dalam dunia bisnis
misalnya, ‘barcode’ merupakan barisan garis ajaib yang dapat di-scan untuk mengenal kartu kredit, identifikasi diri serta data transaksi.
Di dalam rumah, dengan komputer mungil yang dinamakan remote control, pengaturan suhu ruangan (AC), setting televisi,
dan sejenisnya dapat dilakukan tanpa melakukan gerakan yang berlebihan.
Daftar ini dapat diperpanjang dengan contoh lainnya, seperti dalam
bidang kesehatan, dunia antariksa hingga dunia pendidikan. Teknik
penyampaian pembelajaran-pun mengalami perubahan yang akhirnya dikenal
dengan identitas ‘teknologi pembelajaran’.
Eric Ashby
mengatakan bahwa dalam sejarah peradaban manusia, setidaknya telah
terjadi empat revolusi besar pada bidang teknologi pembelajaran.
Revolusi pertama terjadi ketika orang tua menitipkan anak kepada seorang
guru untuk mendapatkan pendidikan. Masa ini merupakan cikal bakal
dimulainya sebuah profesi yang disebut guru. Guru saat itu merupakan
orang yang dipandang mempunyai kelebihan. Siswa datang kepada guru untuk
belajar.
Revolusi
ke dua terjadi ketika manusia mengenal tulisan. Tulisan sebagai
lambang-lambang yang disepakati guna menyampaikan suatu pesan.
Pesan-pesan yang semula disampaikan secara lisan, sejak saat itu mulai
disampaikan secara tertulis. Saat itu orang menulis dengan mempergunakan
media apa saja, seperti kayu, tulang, batu, daun, sampai ditemukannya
kertas pada tahun 105 oleh Cai Lun dari negeri Cina, sebagai pengganti
papyrus. Sejak saat itu budaya tulis semakin berkembang pesat.
Perkembangan
budaya tulis semakin pesat saat memasuki revolusi ke tiga, yakni
ditemukannya mesin cetak pada abad ke 15 oleh Johannes Gutenberg. Mesin
cetak membawa dampak yang sangat luas dalam komunikasi tulisan, yang
semula buku ditulis dan disalin oleh orang perorang, maka setelah
ditemukannya mesin cetak, tulisan dapat diterbitkan secara masal. Mesin
cetak telah memberi warna kepada kehidupan manusia modern.
Pada penghujung abad ke 20
kita menyaksikan revolusi selanjutnya yang sangat menakjubkan, yaitu
revolusi elektronik. Revolusi elektronik pada bidang teknologi
pembelajaran dimulai sejak ditemukannya citra bergerak (motion picture) tahun 1910, siaran radio (1930), televisi pendidikan (1950) serta komputer dan internet (1980).
Awal
abad 21 merupakan kelanjutan dari revolusi elektronik. Pada masa ini,
dikenal berbagai istilah berkaitan dengan pembalajaran elektronik atau
sering disebut e-learning (electronic learning). Konsep e-learning sendiri mencakup terminology yang sangat luas, dari mulai pembelajaran plus elektronik sampai dengan electronic based learning.
Gb.4 Electronic learning for children.
2. BERKENALAN DENGAN MULTIMEDIA
William Ditto (2006) menyatakan definisi multimedia
dalam ilmu pengetahuan mencakup beberapa aspek yang saling bersinergi,
antara teks, grafik, gambar statis, animasi, film dan suara. Sejumlah
penelitian membuktikan bahwa penggunaan multimedia dalam pembelajaran
menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. Penelitian
tersebut antara lain yang dilakukan oleh Francis M. Dwyer. Hasil
penelitian ini antara lain menyebutkan bahwa setelah lebih dari tiga
hari pada umumnya manusia dapat mengingat pesan yang disampaikan melalui
tulisan sebesar 10 %, pesan audio 10 %, visual 30 % dan apabila
ditambah dengan melakukan, maka akan mencapai 80 %. Berdasarkan hasil
penelitian ini maka multimedia interaktif (user melakukan) dapat dikatakan sebagai media yang mempunyai potensi yang sangat besar dalam membantu proses pembelajaran.
Dalam
perkembangannya multimedia dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok,
yaitu multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier
adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol
apapun di dalamnya. Sifatnya sekuensial atau berurutan dan durasi
tayangannya dapat diukur. Film dan televisi termasuk dalam kelompok ini.
Sedangkan
multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan
alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna
dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Ciri
khasnya, multimedia ini dilengkapi dengan beberapa navigasi yang disebut
juga dengan graphical user interface (GUI), baik berupa icon maupun button, pop-up menu, scroll bar, dan lainnya yang dapat dioperasikan oleh user untuk sarana browsing ke berbagai jendela informasi dengan bantuan sarana hyperlink. Penerapan multimedia interaktif ini didapat pada multimedia pembelajaran serta aplikasi game. Multimedia interaktif tidak memiliki durasi karena lama penayangannya tergantung seberapa lama pengguna mem-browsing media ini.
3. MULTIMEDIA UNTUK PEMBELAJARAN
Multimedia
telah mengalami perkembangan konsep sejalan dengan berkembangnya
teknologi pembelajaran. Ketika teknologi komputer belum dikenal, konsep
multimedia sudah dikenal yakni dengan mengintegrasikan berbagai unsur
media, seperti: cetak, kaset audio, video dan slide suara. Unsur-unsur
tersebut dikemas dan dikombinasikan untuk menyampaikan suatu topik
materi pelajaran tertentu. Pada konsep ini, setiap unsur media dianggap
mempunyai kekuatan dan kelemahan. Kekuatan salah satu unsur media
dimanfaatkan untuk mengatasi kelemahan media lainnya. Misalnya,
penjelasan yang tidak cukup disampaikan dengan teks tertulis seperti
cara mengucapkan sesuatu, maka dibantu oleh media audio. Demikian juga
materi yang perlu visualisasi dan gerak, maka dibantu dengan video.
Berikut akan kita lihat beberapa kekuatan dan kelemahan dari unsur multimedia tersebut.
Text
Text
mungkin bukan merupakan media paling kuno yang digunakan oleh manusia
dalam menyampaikan informasi; suara (sound) adalah media yang lebih
dahulu digunakan di dalam menyampaikan informasi. Para filusuf Yunani ,
bahkan para Nabi menggunakan suara sebagai media utama untuk menyebarkan ajarannya. Namun di dalam penggunaannya di dalam komputer,
text adalah media yang paling awal dan juga paling sederhana. Di awal-
awal perkembangan teknologi komputer text adalah media yang dominan
(bahkan satu-satunya). Hal yang sama juga berlaku di dalam perkembangan
internet. Ketika internet masih bernama ARPANET di awal tahun 1970 an text merupakan satunya-satunya media. Kini ketika perkembangan teknologi komputer telah demikian maju, text bukan lagi media yang dominan. Namun demikian ada beberapa kelebihan text di dalam penggunaannya di dalam multimedia pembelajaran :
- Text dapat digunakan untuk menyampaikan informasi yang padat (condensed).
- Text
dapat digunakan untuk materi yang rumit dan komplek seperti rumus-rumus
matematika atau penjelasan suatu proses yang panjang.
- Teknologi
untuk menampilkan text pada layar komputer relatif lebih sederhana
dibandingkan teknologi untuk menampilkan media lain. Konsekuensinya media ini juga lebih murah bila dibandingkan media-media lain.
- Sangat cocok sebagai media input maupun umpan balik (feedback).
Kelemahan media text :
- Kurang kuat bila digunakan sebagai media untuk memberikan motivasi.
- Mata cepat lelah ketika harus menyerap materi melalui text yang panjang dan padat pada layar komputer.
Audio
Socrates
pernah berujar bahwa suara adalah imitasi terbaik bagi pikiran maka
suara adalah media terbaik untuk menyampaikan informasi. Bagi Socrates
text adalah imitasi dari suara, dengan demikian sebagai penyampai
pikiran text bukanlah media yang ideal karena ia hanyalah imitasi dari
suatu imitasi. Pendapat Socrates mungkin ada benarnya karena suara
adalah media yang secara natural telah dimiliki oleh manusia sehingga
suara adalah media yang paling alami. Guru di kelas pun lebih banyak
mengandalkan suara baik ketika memberikan materi atau melakukan motivasi
bagi siswa-siswanya. Jika untuk percakapan secara langsung audio adalah
media yang simpel dan alami maka tidak demikian halnya ketika digunakan
di dalam komputer. Penggunaan suara di dalam komputer berlangsung
belakangan sesudah penggunaan text.
Kelebihan suara di dalam multimedia pembelajaran :
- sangat cocok bila digunakan sebagai media untuk memberikan motivasi.
- Untuk
materi- materi tertentu suara sangat cocok karena mendekati keadaan
asli dari materi (misal pelajaran mengenai mengenal suara-suara
binatang)
- Membantu
pembelajar fokus pada materi yang dipelajari karena pembelajar cukup
mendengarkan tanpa melakukan aktivitas lain yang menuntut konsentrasi .
Bandingkan dengan pembelajar yang melihat teks di layar komputer. Dalam
hal ini pembelajar melakukan multi aktivitas yakni : membaca teks pada
layar (yang tidak semudah membaca pada buku), mencari kata-kata kunci (keyword) dari materi, dan menggerakkan tangan, seperti melakukan klik mouse untuk menggulung layar saat ingin melihat bagian teks yang tak terlihat pada layar.
Kelemahan audio :
- memerlukan tempat penyimpanan yang besar di dalam komputer.
- Memerlukan software dan hardware yang spesifik (dan mungkin mahal) agar suara dapat disampaikan melalui komputer.
Graphics
“A picture is worth a thousand words’.
Peribahasa ini menunjukkan bahwa penggunaan gambar di dalam
pembelajaran mampu menjelaskan banyak hal bila dibandingkan dengan media
text.
Kelebihan media gambar :
- lebih mudah dalam mengidentifikasi obyek-obyek.
- Lebih mudah dalam mengklasifikasikan obyek.
- Mampu menunjukkan hubungan spatial dari suatu obyek.
- Membantu menjelaskan konsep abstrak menjadi konkret.
Animasi
Animasi
adalah salah satu daya tarik utama di dalam suatu program multimedia
interaktif. Bukan saja mampu menjelaskan suatu konsep atau proses yang
sukar dijelaskan dengan media lain, animasi juga memiliki daya tarik
estetika sehingga tampilan yang menarik dan eye-catching akan memotivasi pengguna untuk terlibat di dalam proses pembelajaran.
Manfaat animasi :
- Menunjukkan obyek dengan ide (misal efek gravitasi pada suatu obyek)
- Menjelaskan
konsep yang sulit (misal penyerapan makanan kedalam aliran darah atau
bagaimana elektron bergerak untuk menghasilkan arus listrik)
- Menjelaskan
konsep yang abstrak menjadi konkrit (misal menjelaskan tegangan arus
bolak balik dengan bantuan animasi garfik sinus yang bergerak).
- Menunjukkan dengan jelas suatu langkah prosedural (misal cara melukis suatu segitiga sama sisi dengan bantuan jangka).
Simulasi
Media
simulasi mirip dengan animasi, tetapi ada satu perbedaan yang menonjol !
Bila dalam animasi kontrol dari pengguna hanyalah sebatas memutar ulang
maka di dalam simulasi kontrol pengguna lebih luas lagi. Pengguna bisa
memasukkan variabel-varibel tertentu untuk melihat bagaimana besarnya
variabel berpengaruh terhadap proses yang tengah dipelajari. Sebagai
contoh pada simulasi pembentukan bayangan oleh suatu lensa, pengguna
dapat mengubah sendiri nilai indeks bias dan kelengkungan lensa sehingga
pengguna dapat melihat secara langsung bagaimana variabel-variabel
tersebut berpengaruh terhadap pembentukan bayangan.
Manfaat simulasi :
- Menyediakan
suatu tiruan yang bila dilakukan pada peralatan yang sesungguhnya
terlalu mahal atau berbahaya (misal simulasi melihat bentuk tegangan
listrik dengan simulasi oscilloscope atau melakukan praktek menerbangkan pesawat dengan simulasi penerbangan).
- Menunjukkan
suatu proses abstrak di mana pengguna ingin melihat pengaruh perubahan
suatu variabel terhadap proses tersebut (misal perubahan frekwensi
tegangan listrik bolak balik yang melewati suatu kapasitor atau
induktor).
Video
Kelebihan-kelebihan video di dalam multimedia adalah:
- Memaparkan keadaan riel dari suatu proses, fenomena atau kejadian
- Sebagai bagian terintegrasi dengan media lain seperti teks atau gambar, video dapat memperkaya pemaparan.
- Pengguna dapat melakukan replay
pada bagian-bagian tertentu untuk melihat gambaran yang lebih fokus.
Hal ini sulit diwujudkan bila video disampaikan melalui media seperti
televisi.
- Sangat cocok untuk mengajarkan materi dalam ranah perilaku atau psikomotor.
- Kombinasi video dan audio dapat lebih efektif dan lebih cepat menyampaikan pesan dibandingkan media text.
- Menunjukkan dengan jelas suatu langkah prosedural (misal cara melukis suatu segitiga sama sisi dengan bantuan jangka).
Kelemahan :
- Video mungkin saja kehilangan detil dalam pemaparan materi karena siswa harus mampu mengingat detil dari scene ke scene.
- Umumnya
pengguna menganggap belajar melalui video lebih mudah dibandingkan
melalui text sehingga pengguna kurang terdorong untuk lebih aktif di
dalam berinteraksi dengan materi.
Pada
pertengahan dekade tahun 80-an tatkala teknologi komputer multimedia
mulai diperkenalkan, maka sejak saat itu multimedia pembelajaran
berbasis komputer-pun dimulai. Terdapat berbagai sebutan untuk media
pembelajaran berbasis computer seperti CAI (Computer Assisted Instruction),
MPI (Multimedia Pembelajaran Interaktif), SPM (Software Pembelajaran
Mandiri), media presentasi berbantuan komputer, dll. Setiap penyebutan
tentu saja mempunyai karakteristik khusus sesuai dengan yang dimaksudkan
oleh pengembangnya.
Media
penyimpanan-pun berkembang mulai dari kemasan disket dengan kapasitas
1,4 MB, CD dengan kapasitas 650 MB, sampai dengan DVD yang berkapasitas
4,7 GB.
Sejalan dengan berkembangnya teknologi jaringan dan internet, maka multimedia berkembang tidak terbatas pada standalone PC, tapi juga berbasis jaringan, sehingga sumber belajar menjadi lebih kaya.
4. FUNGSI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Manfaat
media pendidikan dalam proses belajar menurut Hamalik (1986) antara
lain sebagai peletakkan dasar-dasar yang kongkrit dalam berfikir untuk
mengurangi ‘verbalisme’, memperbesar minat siswa, membuat pelajaran
lebih menyenangkan sehingga berdampak kepada hasil pembelajaran yang
lebih memuaskan.
Multimedia dalam pembelajaran dapat digolongkan kedalam tiga karakteristik. Pertama,
multimedia digunakan sebagai salah satu unsur pembelajaran di kelas.
Misal jika guru menjelaskan suatu materi melalui pengajaran di kelas
atau berdasarkan suatu buku acuan, maka multimedia digunakan sebagai
media pelengkap untuk menjelaskan materi yang diajarkan di depan kelas. Multimedia
dengan jenis ini dinamakan juga dengan ‘presentasi pembelajaran’.
Materi yang ditayangkan tidak terlalu kompleks dan hanya menampilkan
beberapa item yang dianggap penting, baik berupa teks, gambar, video
maupun animasi. Latihan dan tes kurang cocok diletakkan pada presentasi
pembelajaran ini, kecuali bersifat quiz guna membangun suasana kelas agar lebih dinamis.
Kedua,
multimedia digunakan sebagai materi pembelajaran mandiri. Pada tipe
kedua ini multimedia mungkin saja dapat mendukung pembelajaran di kelas
mungkin juga tidak. Berbeda dengan tipe pertama, pada tipe kedua seluruh
kebutuhan instruksional dari pengguna dipenuhi seluruhnya di dalam
paket multimedia. Artinya seluruh fasilitas bagi pembelajaran, termasuk
latihan, feedback dan tes yang mendukung tujuan pembelajaran disediakan
di dalam paket.
Ketiga,
multimedia digunakan sebagai media satu-satunya di dalam pembelajaran.
Dengan demikian seluruh fasilitas pembelajaran yang mendukung tujuan
pembelajaran juga telah disediakan di dalam paket ini. Paket semacam ini sering disebut CBL (Computer Based Learning).
5. KEUNGGULAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Bates (1995) menekankan bahwa diantara media-media lain, interaktivitas multimedia atau media lain yang berbasis komputer adalah yang paling nyata (overt).
Interaktivitas nyata di sini adalah interaktivitas yang melibatkan
fisik dan mental dari pengguna saat mencoba program multimedia. Sebagai
perbandingan media buku atau televisi sebenarnya juga menyediakan
interaktivitas, hanya saja interaktivitas ini bersifat samar (covert) karena hanya melibatkan mental pengguna.
Interaktivitas
secara fisik dalam multimedia pembelajaran bervariasi dari yang paling
sederhana hingga yang kompleks. Interaktivitas sederhana misalnya
menekan keyboard atau melakukan klik dengan mouse untuk berpindah halaman (display)
atau memasukkan jawaban dari suatu latihan yang diberikan oleh
komputer. Interaktivitas yang komplek misalnya aktivitas di dalam suatu
simulasi sederhana di mana pengguna bisa mengubah-ubah suatu variabel
tertentu atau di dalam simulasi komplek di mana pengguna menggerakkan
suatu joystick untuk menirukan gerakan mengemudikan pesawat terbang.
Keunggulan
multimedia di dalam interaktivitas adalah media ini secara inheren
mampu memaksa pengguna untuk berinteraksi dengan materi baik secara
fisik dan mental. Tentu saja kemampuan memaksa ini tergantung pada
seberapa efektif instruksi pembelajaran mampu menarik pengguna untuk
mencoba secara aktif pembelajaran yang disajikan. Sebagai contoh adalah
program multimedia pembelajaran yang berisi materi mengenai oscilloscope[1] yang ditunjukkan pada gambar.6 di bawah ini. Dengan menggunakan multimedia pembelajaran pengguna akan diajak secara langsung mencoba dan menggunakan simulasi oscilloscope
yang tersedia. Berbeda halnya jika materi yang sama disajikan dengan
buku atau video. Dalam hal ini pengguna hanya pasif (secara fisik)
melihat bagaimana cara menggunakan oscilloscope ditampilkan. Aktivitas mental ( pengguna menyerap cara menggunakan dan mengatur oscilloscope) mungkin terjadi akan tetapi aktivitas fisik (dalam hal ini mencoba sendiri cara mengatur oscilloscope)
tidak terjadi. Dengan kata hal lain – dalam hal suatu simulasi – dengan
menggunakan multimedia pembelajaran pengguna akan mencoba secara
langsung bagaimana sesuatu terjadi.
Gb.6 Oscilloscope dalam multimedia pembelajaran.
Selanjutnya Fenrich (1997) menyimpulkan keunggulan multimedia pembelajaran antara lain:
• siswa
dapat belajar sesuai dengan kemampuan , kesiapan dan keinginan mereka.
Artinya pengguna sendirilah yang mengontrol proses pembelajaran.
• siswa belajar dari tutor yang sabar (komputer) yang menyesuaikan diri dengan kemampuan dari siswa.
• siswa akan terdorong untuk mengejar pengetahuan dan memperoleh umpan balik yang seketika.
• siswa menghadapi suatu evaluasi yang obyektif melalui keikutsertaannya dalam latihan/tes yang disediakan.
• siswa menikmati privasi di mana mereka tak perlu malu saat melakukan kesalahan.
• Belajar saat kebutuhan muncul (“just-in-time” learning).
• Belajar kapan saja mereka mau tanpa terikat suatu waktu yang telah ditentukan.
Di samping itu, multimedia pembelajaran dapat juga unggul dalam hal:
· Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, electron.
· Memperkecil benda yang sangat besar, yang tidak mungkin dihadirkan ke sekolah, seperti gajah, rumah, gunung.
· Menyajikan
benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau
lambat, seperti sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya
planet, berkembangnya bunga.
· Menyajikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang, salju.
· Menyajikan benda atau peristiwa yang berbahaya, seperti letusan gunung berapi, harimau, racun.
· Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.
6. FORMAT MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Dalam penyajiannya, multimedia pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi beberapa format, antara lain;
a. Tutorial
Materinya
dilakukan secara tutorial, sebagaimana layaknya tutorial yang dilakukan
oleh guru atau instruktur. Informasi dilakukan dengan teks, gambar,
baik diam maupun bergerak. Selesai penyajian tayangan, diberikan
serangkaian pertanyaan untuk dievaluasi tingkat keberhasilan.
b. Drill dan Practice
Dimaksud untuk melatih pengguna sehingga memiliki kemahiran dalam suatu keterampilan atau memperkuat penguasaan suatu konsep.
c. Simulasi
Mencoba
menyamai proses dinamis yang terjadi di dunia nyata, misalnya untuk
mensimulasikan pesawat terbang, seolah-olah pengguna melakukan aktivitas
menerbangkan pesawat terbang.
Format
ini mencoba memberikan pengalaman masalah dunia nyata yang biasanya
berhubungan dengan suatu resiko, seperti terjatuhnya pesawat terbang
tersebut.
d. Percobaan atau Eksperimen
Format
ini mirip dengan simulasi, namun lebih ditujukan pada kegiatan-kegiatan
eksperimen, seperti kegiatan praktikum di laboratorium IPA, biologi
atau kimia.
Diharapkan
pada akhirnya pengguna dapat menjelaskan suatu konsep atau fenomena
tertentu berdasarkan eksperimen yang mereka lakukan secara maya
tersebut.
e. Permainan:
Permainan
yang disajikan tetap mengacu pada proses pembelajaran dan dengan
program multimedia berformat ini diharapkan terjadi aktivitas belajar
sambil bermain.
7. P E N U T U P
Rembuk Nasional Pendidikan yang diadakan pada tanggal 4 hingga 6 Februari 2008 di Pusdiklat Pegawai Depdiknas Sawangan, Depok mengangkat tema; Pemantapan Pencapaian Target Renstra 2005-2009.
Dalam forum yang dihadiri 734
peserta, terdiri atas Pejabat Eselon I dan II Depdiknas, Kepala Dinas
Pendidikan Propinsi dan Kabupaten/Kota, Rektor Perguruan Tinggi Negeri,
Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis), Kepala Unit Pelaksana
Teknis (UPT) Depdiknas di daerah, Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP), dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT), BAN
Sekolah/Madrasah, BAN Pendidikan Non Formal (BAN PNF). Atase Pendidikan
dan Kebudayaan, dan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco,
serta Dubes/KWRI di Unesco tersebut
Mendiknas Bambang Sudibyo menyebutkan, reformasi pendidikan di
Indonesia telah memasuki tahap yang amat berarti. Kini pendidikan telah
diamandemenkan sebagai hak asasi manusia, bukan sekedar hak warga
negara. Berbagai hal dilakukan untuk memajukan dunia pendidikan
Indonesia, mulai dari penerbitan UU hingga penyediaan dana sampai 20
persen dari APBN. Ini menjadi reformasi pendidikan yang terbesar di
dunia. Untuk itulah, Mendiknas meminta pemerintah daerah punya komitmen
yang besar pula untuk mendukung reformasi pendidikan ini.
Rembuk
Nasional Pendidikan tersebut membahas 3 materi pokok, yaitu (1)
Evaluasi capaian kinerja pembangunan pendidikan tahun 2005-2007, (2)
Pemantapan pelaksanaan 9 terobosan kebijakan pendidikan, dan (3)
Peningkatan pemahaman terhadap 7 isu pokok pendidikan.
Sembilan Terobosan Kebijakan Pendidikan Nasional
1. Pendanaan Pendidikan
2. Peningkatan Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi Guru dan Dosen
3. Penerapan TIK untuk e-pembelajaran dan e-administrasi
4. Pembangunan prasarana dan sarana pendidikan
5. Rehabilitasi prasarana dan sarana pendidikan
6. Reformasi perbukuan
7. Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan secara komprehensif
8. Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan secara komprehensif
9. Pendidikan Non Formal dan Informal untuk menggapai yang tak terjangkau (reaching the unreached)
Tujuh Isyu Pokok Pendidikan
1. Penuntasan Wajib Belajar 9 tahun
2. Pemberantasan Buta Aksara
3. Peningkatan akses SLTA dan perimbangan jumlah siswa SMA:SMK
4. Peningkatan akses perguruan tinggi, terutama melalui peningkatan kapasitas Politeknik
5. Redistribusi guru dan antisipasi kekurangan guru dalam waktu 5 tahun ke depan.
6. Evaluasi pelaksanaan UN, KTSP, e-administration, e-learning,
Akreditasi Sekolah/Madrasah dan PT, BOS dan BOS Buku, Rehabilitasi
Sarana dan Prasarana sekolah, peningkatan kualifikasi dan sertifikasi
guru dan dosen, dan pendidikan kecakapan hidup.
7. Evaluasi pelaksanaan otonomi satuan pendidikan dan peran serta masyarakat.
Menarik untuk digarisbawahi adalah tentang 9 Terobosan Kebijakan Pendidikan Nasional yang menempatkan Penerapan TIK untuk e-pembelajaran dan e-administrasi pada urutan ke tiga. Hal ini tentu dirasa sangat mendesak dan perlu! Siapa
lagi yang akan bergerak kalau tidak seluruh komponen pendidikan
terkait, termasuk guru yang harus lebih banyak lagi menggeluti dunia
Teknologi Pendidikan dalam hal ini mengkomputerisasikan perangkat
pembelajaran dan mengemas media pembelajarannya secara lebih professional. Guru merangkap programmer? Mengapa tidak!
Saatnya teknologi informasi komunikasi disahabati, bukan untuk dijauhi, apalagi ditakuti.
D A F T A R P US T A K A
Barton, R. Teaching Secondary Science with ICT. London: Open University Press, 2004.
Bates, A.W. Technology, Open Learning And Distance Education. London: Routledge, 1995.
Fenrich, P. Practical Guidelines For Creating Instructional Multimedia Applications. Forth Worth : The Dryden Press 1997.
Panduan Pembuatan Multimedia Pembelajaran; Depdiknas, 2007
Pramono, Gatot. Pemanfaatan Multimedia Pembelajaran. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008
Rembuk Nasional Pendidikan Pemantapan Pencapaian Target Renstra 2005-2009_files.
Ditto, William. Multimedia, Encarta Premium DVD Ensiclopedia 2006.
Komentar
Posting Komentar